Jumat, 03 Februari 2012

Kanon Meriam

h1

FH-2000 155mm : Meriam Kaliber Terbesar Armed TNI AD

29/11/2011

Meski dikenal sebagai surganya koruptor Indonesia, dan kerap bersinggungan dengan wilayah perbatasan NKRI, namun nyatanya hubungan kerjasama pertahanan antara Indonesia dan Singapura cukup harmonis. Salah satu indikasinya bisa dilihat dari adopsi alutsista kelas berat milik TNI AD yang diimpor dari Singapura, yakni meriam FH-2000. Meski didatangkan dari Singapura, FH-2000 cukup monumental bagi satuan artileri medan (Armed), pasalnya inilah meriam dengan kaliber terbesar (155 mm) yang saat ini dan satu-satunya jenis yang digunakan TNI AD.
FH-2000 mulai diluncurkan pada tahun 1993 dan pertama dioperasikan oleh Batalion Artileri Singapura ke-23 pada tahun 1995. Tidak banyak FH-2000 yang dimiliki TNI AD, jumlahnya hanya 6 unit meriam, dan saat ini ditempatkan sebagai elemen kekuatan di Resimen II Armed/Sthira Yudha, salah satu satuan komando dibawah Divisi Infantri 1/Kostrad TNI AD yang bermarkas di Sadang, Purwakarta, Jawa Barat.

Dibanding jenis meriam konvensional yang umum digunakan oleh TNI AD, FH-2000 merupakan jenis meriam howitzer yang dapat dijalankan secara mobile dengan dua mekanisme. FH yang artinya Field Howitzer dapat ditarik/digandeng layaknya meriam biasa, ditarik dengan truk angkut berat. Tapi lain dari itu, FH-2000 dapat bergerak sendiri, pasalnya meriam rancangan dan produksi dari Singapore Technologies (ST) Kinetics ini memiliki mesin penggerak berjenis Diesel berdaya 75 hp. Dengan mesin ini memungkinkan meriam bergerak secara mendiri (self propelled) dengan kecepatan 10Km per jam tanpa perlu ditarik kendaraan pengangkut.
FH-2000 merupakan pengembangan dari sistem meriam FH-88 yang pertama kali diproduksi pada tahun 1983 dengan menggunakan komponen yang sama.Pada awalnya sejumlah meriam FH-88 banyak yang menggunakan kaliber laras 52mm dan 39mm, seiring dengan perkembangannya kaliber laras 52mm dirasa cocok diaplikasi ke meriam generasi terbarunya (FH-2000).


Saat Howitzer digunakan platform pendukung penembakan menggunakan struktur tripod mekanis. Beban tembakan di transmit ke permukaan tanah melalui tripod ini, isolasi silinder hidrolik dari platform ini cukup handal untuk digunakan. FH2000 juga dapat mengaplikasi serangkaian sistem pengamatan optik ke elektro-optik. Sistem pengamatan ini bisa dihubungkan kedalam kontrol penembakan di komputeri. Di bagian belakang meriam menggunakan mekanisme semi-otomatis, bagian ini terbuka secara otomatis selama counter recoil digunakan. Kontrol elektronik dan hidrolik power mendorong ceklikan ram proyektil masuk ke ruang barel dengan konsistensi tinggi.
Inovasi pengembangan FH-2000 kini terus berlanjut, ST Kinetics juga membantu Turki dalam perancangan dan manufaktur dari meriam towed howitzer sistem buatan dalam negerinya sendiri (155mm/52calibre) bernama “PANTHER”. Artileri ini dibangun dengan mengambil dasar FH-2000 yang telah ditingkatkan, salah satunya penggunaan Diesel Auxiliary Power Unit (APU) berkekuatan160 hp (aslinya 75 hp), sehingga mampu memberikan kecepatan self-propelled 18km per jam.
FH-2000 juga dapat dimasukkan ke dalam kabin C-130 Hercules
FH-2000 mempunyai jangakaun tembak efektif 19 Km dengan amunisi M107, sedangkan jarak tembak maksimumnya bisa mencapai 40 Km. Kiprah industri pertahanan Singapura memang mengagumkan, negara pulau dengan luas wilayah tak sampai sebesar DKI Jakarta ini nyatanya memiliki artileri medan yang cukup kuat, bahkan dari sisi teknologi justru mampu melangkahi saudara tuanya, Republik Indonesia. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi FH-2000
Tipe : Howitzer
Manufaktur : ST Kinetics
Berat : 13,2 ton
Panjang : 12,9 meter
Lebar : 9,73 meter
Awak : 6 orang
Kaliber : 155 mm
Elevasi : -3°/+70°
Jarak Tembak Efektif : 19 Km
Jarak Tembak Maksimum : 40 Km
Mesin : Air-cooled turbo charged diesel 75 hp (56 kW)




h1

Cockerill 90 : Kanon Pamungkas Korps Kavaleri

06/01/2011
Cockerill 90 mm pada Panser Anoa 6x6 buatan Pindad
Walau punya jenis spesifikasi ranpur yang berbeda, antara kavaleri TNI-AD dan Marinir TNI-AL punya kesamaan untuk urusan senjata andalan. Baik kavaleri TNI-AD dan Marinir TNI –AL diketahui sejak lama sama-sama mengandalkan kanon Cockerill kaliber 90mm. Di lingkungan TNI-AD, Cockerill 90 diketahui memperkuat tank ringan Scorpion dan panser V-150, bahkan panser besutan Pindad yang masih prototip, yakni Anoa 6×6 versi kanon juga mengadopsi Cockerill 90.
Sedangkan di lingkungan Korps Marinir TNI-AL, kiprah Cockerill 90 sudah diadopsi sebagai pengganti kanon 76 mm yang terdapat pada tank amfibi PT-76. Dari tipe ranpur yang menggunakan kanon jenis ini memang tak terlalu banyak, tapi tipe-tipe ranpur diatas mewakili sebagian besar jumlah ranpur Kavaleri Indonesia yang siap operasional sebagai garda terdepan.
Anatomi kanon Cockerill 90 mm
Ruang kompartemen Cockerill 90 mm
Apa yang menjadi keunggulan Cockerill 90? Secara garis besar, kanon ini punya dua daya tarik, pertama sifatnya low pressure dengan kemampuan maksimum. Dan kedua, kanon ini terbilang low budget, sehingga ideal menjadi arsenal ranpur di banyak negara berkembang yang mengandalkan ringan untuk menggasak APC (armoured personel carrier). Sebagai bukti laris manisnya Cockerill, hingga kini Cockerill sudah diproduksi lebih dari 2500 unit.
Cockerill 90 pada tank Scorpion TNI-AD
Cockerill terdiri dari beragam jenis, mulai dari tipe MK1, MKII dan yang terbaru MKIII. Produksi perdana kanon ini dimulai pada tahun 1974. Pada awalnya Cockerill diproduksi oleh CMI Defense Belgia, kemudian beralih ke Engesa, Brasil. Tipe perdana Cockerill digerakan dengan sistem pengendali hidrolik, dan kemudian karena perkembangan tuntutan untuk reaksi yang lebih cepat, sistem pengendali diganti ke elektrik. Tipe terbaru, Cockerill MK3 90mm dikenal luas sebagai kanon yang handal, multi guna, low pressure dan mudah dalam perawatan. Dengan spesifikasi yang ditawarkan, kanon ini amat ideal ditempatkan pada aneka ranpur dengan bobot 7 ton keatas.

Spesifikasi amunisi Cockerill 90
Cockerill dioperasikan oleh dua awak, kompartemen penembakan dirancang ergonomis dan memberi kenyamanan bagi awaknya. Walau mengusung kaliber kelas menengah, kanon ini kompatibel dengan beragam amunisi, seperti tipe HEAT-T (High Explosive Anti Tank Tracer), HET (High Explosive Tracer), Smoke White Phosphorus Tracer, dan HESH-T (High Explosive Squash Head Tracer).
PT-76 Korps Marinir TNI-AL dengan Cockerill 90
Dalam sistem penembakan, kanon 90 mm tidak hanya bekerja sendiri, Cockerill juga menyediakan proteksi balistik dari senapan mesin kaliber 7,62 mm yang larasnya bergerak mengikuti gerakan laras kanon (coaxial). Agar penembakan akurat, terdapat perangkat laser range finder dan komputer balistik. Hal ini menjadikan kanon dapat ditembakan saat ranpur sedang melaju. Secara umum, daya tembak kanon ini dapat efektif hingga jarak 6 Km.
Cockerill 90 pada panser SIBMAS AD Malaysia
Cockerill tak hanya jago melahap sasaran di siang hari, obyek sasaran di kegelapan malam juga mudah dihantam berkat adanya perangkat night vision berbasis teknologi thermal, plus bekal periskop untuk membidik sasaran. Tak lupa dalam kubah kanon juga terdapat pelontar granat asap untuk samaran, kaliber granat yang disediakan adalah 66/76 dan 80 mm.
Selain digunakan pada tank Scorpion dan PT-76, Cockerill diketahui juga dipasangkan pada panser CMI 162 SIBMAS, Valkyr 4×4, Steyr-Daimler-Puch Pandur 6 × 6, Cadilage Cage V-150/V300 dan tank APC M113A2. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar